EdukasiNews

Teks Khutbah Jum’at Singkat: Meneladani Kecintaan Nabi Muhammad SAW terhadap Tanah Air

1
×

Teks Khutbah Jum’at Singkat: Meneladani Kecintaan Nabi Muhammad SAW terhadap Tanah Air

Sebarkan artikel ini
Teks Khutbah Jum'at Singkat (Amazenesia/Freepik)
Teks Khutbah Jum'at Singkat (Amazenesia/Freepik)

Amazenesia.com – Berikut Teks Khutbah Jum’at Singkat yang mengangkat tema Meneladani Kecintaan Nabi Muhammad SAW terhadap Tanah Air.

Kutbah Jum’at adalah bagian penting dalam ibadah Islam yang dilakukan setiap hari Jumat. Khutbah Jum’at merupakan momen di mana seorang khatib (pemimpin kutbah) menghadirkan kuliah singkat kepada jamaah yang berkumpul di masjid.

Shalat jumat sendiri merupakan ibadah yang harus dilakukan secara berjamaah, berupa 2 rakaat saja. Adapun sebelum melaksanakan shalat jumat salah satunya adalah dilaksanakannya salah satu syarat dan rukun dalam shalat jumat yaitu penyampaian khutbah jumat oleh khatib.

Pada saat penyampaian khutbah jumat pun, ada beberapa rukun yang perlu diketahui yaitu membaca hamdalah di kedua khutbah, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW di kedua khutbah, menyampaikan wasiat agar bertakwa kepada Allah SWT, membaca salah satu ayat Al-Quran di salah satu khutbah serta memohon ampunan kepada Allah melalui doa-doa.

Berikut teks khutbah Jumat singkat yang dikutip dari laman NU Online serta dapat dijadikan referensi:

Khutbah I

 اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kita semua tentu punya rumah. Tempat kita singgah dalam waktu yang lama. Tempat bernaung dan memperoleh keamanan dan kenyamanan. Di rumah kita menikmati adanya privasi, kedaulatan untuk—misalnya—beribadah secara khusyuk, belajar dengan fokus, dan sejenisnya. Rumah adalah kebutuhan pokok sekaligus hak seseorang yang tak boleh dirampas. Siapa pun tak berhak mencuri harta benda atau mengganggu rumah kita. Islam menjamin hak-hak ini sehingga si pemilik boleh membela diri. Seorang pencuri dalam Islam juga tak lepas dari sebuah sanksi.